Login | Signup

Bantu CMnet dgn DONASI 50ribu saja. Krm ke rekening BNI Syariah : 0159744541. Konfirmasi ke 081363130947. sangat membantu kami dlm mnjalankn CMnet ini. Jazakumullahu Khairan Katsiran

muhammad ali musthofa

Terkontaminasi atau Tidak, Susu Formula Sangat Berisiko untuk Bayi

Mar 7th 2011, 8:40 am
Diposting oleh islamsampaimati
65 Views

             Apakah terkontaminasi Bahteri Sakazaki atau tidak, pemberian susu formula untuk bayi sejak dini sangat berisiko terhadap bayi akan terinfeksi berbagai kuman yang masuk ke tubuh bayi, terutama ketika memproses susu formula itu mulai dikeluarkan dari kemasan hingga diminum si bayi. Berbeda dengan Air Susu Ibu (ASI) yang terjamin dari terkontaminasi bahteri apapun.

Di dalam ASI ada zat-zat hidup yang mengandung anti penyakit yang ditelan oleh bayi dan dapat melawan penyakit dari dalam dan luar tubuh bayi tersebut, sehingga bayi tidak gampang sakit. Sementara di susu formula tidak ada atau 0 (Nol) zat hidup anti penyakit itu, karena susu sapi sudah diolah dalam panas tinggi dan dipack menjadi susu formula.

"Karena tidak ada zat hidup yang berfungsi sebagai anti penyakit itu menyebabkan bayi yang meminum susu formula menjadi gampang sakit seperti diare dan sakit perut lainnya," ungkap Dokter Spesialis Anak LKC-Dompet Dhuafa dr. Asti Praborini, Sp.A, IBCLC., ketika ditemui seusai memeriksa kesehatan pasien anak-anak di LKC-DD Ciputat, Jumat (25/2/2011).

Apalagi kalau ia berasal dari kaum dhuafa yang tidak ada akses, maka bayinya akan lebih mudah meninggal. Seperti akses pada pengobatan, akses mendapatkan air bersih, tidak semua orang mampu menyediakan air bersih sehingga risiko mudhorat menggunakan susu formula menjadi tinggi karena mereka membutuhkan air bersih untuk melarutkan susu dan merebus botol susu tersebut. Selanjutnya akses bahan bakar gas atau minyak tanah untuk memasak air dan merebus botol untuk setiap kali mau dipakai.

"Jadi kebutuhan utama untuk menggunakan susu formula bukan hanya air tapi juga kebutuhan bahan bakar, dibanding ASI boleh dibilang susu formula justru sebuah pemborosan. Ingat, boros itu temannya syaitan " jelas dokter yang akrab dipanggil dr. Rini ini.

Dengan kata lain, lanjut dr. Rini, jika anak diberikan susu formula sejak dini, artinya orang tua harus menyediakan uang lebih banyak, karena dibutuhkan untuk beli air, beli gas, minyak tanah atau apapun sehingga pengeluaran keluarga menjadi besar. Menjadi berbahaya apabila uang tidak ada sehingga tidak ada pembeli gas untuk merebus botolnya dan tidak pula mencukupkan takaran susu formula sesuai kebutuhan si bayi. Dengan ini risiko mudharatnya pun semakin tinggi, ditambah risiko terkontaminasi saat proses pembuatan susu itu.

"Karena uang tidak punya, sehingga takaran susu yang harusnya 60cc dibikin aja setengahnya, ini juga berbahaya untuk asupan gizi si bayi, " jelas dr. Rini.

dr. Rini mencontohkan, mari kita hitung, seorang Tukang Odong-Odong yang termasuk kategori dhuafa, misalnya, berpenghasilan Rp15.000 s.d Rp20.000 per hari. Atau kalau kita berbicara statistik, 40 persen rakyat Indonesia berpenghasilan 2 USD per hari atau sekitar Rp18000 s.d Rp20.000 per hari. Artinya sebulan pendapatan mereka berkisar Rp500.000 s.d Rp600.000. Sementara untuk kebutuhan susu formula untuk bayinya diperlukan uang berkisar Rp540.000 s.d Rp640.000 per bulan hanya untuk pembeli susu sesuai petunjuk takaran saji.

Artinya, sisa uang dari pendapatan keluarga hanya berkisar Rp40.000, padahal ia membutuhkan uang untuk kebutuhan lain juga seperti beli gas, beli air bersih, bayar listrik, makan anggota keluarga lainnya, kontrak rumah, biaya sekolah anak dan kebutuhan lainnya. Bahkan ada yang belum punya kamar mandi, bayar sewa untuk mandi Rp1000 per kali mandi.

"Bahkan ada, saking pengen hematnya ada yang suami dan isteri mandi bareng biar bayarnya hanya Rp1000, lama-lama ketahuan sama penjaganya akhirnya mereka tetap harus bayar Rp2000. Untuk mandi saja ia butuh pengeluaran Rp.60.000 per bulan. . Ini menyedihkan, saya ngomongnya seperti bercanda, tapi ini adalah serius dan benar-benar terjadi di pasien LKC-DD," jelas dr. Rini.

Dengan demikian , jelaslah pemberian susu formula pada bayi sejak dini seperti ini, lanjutnya, tentu akan menambah miskin keluarga miskin dan menyebabkan anaknya menjadi kurang gizi karena susu formula yang diminum,takarannya sangat kurang dari seharusnya.

Kalau susu formula tidak cocok untuk bayi orang miskin, bagaimana kalau susu formula untuk anak orang kaya? "Sama saja, tetap berisiko" tutur Rini.

Menurut penelitian, susu formula itu mengandung natrium tinggi, jadi tanpa kecuali, bayi dari kalangan kaya atau miskin sama saja, akan berpotensi risiko tinggi terkena hipertensi dan stroke serta penyakit Kardiovaskuler (CVD) penyakit yang mengenai jantung dan pembuluh darah, dibandingkan bayi -bayi yang diberi ASI.

Selain itu, bayi-bayi yang diberi susu formula sejak dini juga berisiko tinggi untuk menderita gangguan prilaku karena MN yang tinggi termasuk ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktifitas motorik anak-anak, hingga menyebabkan aktifitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan.

"Jadi anak-anak itu akan menjadi brutal saat dewasa, kalau masa kecilnya hyperactive susah dikendalikan. Selain itu mereka juga berisiko menderita kanker, leukomia dan penyakit lainnya," tambahnya. "Intinya, mau miskin atau kaya, mau terkontaminasi atau tidak, hindarilah pemberian susu formula bagi bayi. Sebaiknya berikan ASI eksklusif pada bayi sampai umur 6 bl dan genapkan pemberian ASI hingga 2 tahun. "

Bahkan meminum ASI adalah perintah Allah SWT, lanjutnya, tertuang dalam Al Quran Surat Al Baqarah (2) : 233, Surat Lukman (31) : 14, Surat Al Ahqaf (46) : 15, Surat Al Thalaq (65) : 6 tentang menyusui sampai dua tahun.

"Artinya kalau kita laksanakan perintah ini kita akan mendapat amal karena ini ibadah, tapi kalau kita melawan perintah Allah SWT, maka kita harus siap menanggung risiko dunia dan akhirat, " jelasnya.

Bayi Zidan

Pada kesempatan itu, dr. Rini mencontohkan bayi Zidan yang lahir di sebuah Rumah Sakit dengan berat badan 1,4 kg, ketika lahir dia dipisahkan dengan ibunya karena lahir prematur jadi Zidan ditaruh di inkubator yang jauh dari ibunya. Selama perawatan Zidan diberikan susu formula.

Padahal secara fitrah dan keilmuan, lanjut dr. Rini, sekecil atau seberat apapun bayi apabila menyusu ASU dikelola dengan baik maka dia akan bisa menyusu dengan ASI, tapi apabila sudah tersentuh oleh botol dot cukup dua kali saja, si bayi tidak akan mau lagi menyusu pada ibunya.

"Tidak ada ASI yang tidak keluar. Yang ada, manajemen menyusuinya yang tidak benar. Karena cara menyusu dengan botol dan puting ibunya sangat berbeda caranya, kalau sudah dikenalkan mpeng botol maka dia tidak akan mau lagi susu sama ibu. Tapi kalau sudah dari awal disusui oleh ibu, maka ASI akan teransang untuk produksi, bahkan akan kebanjiran," jelas dr. Rini.

Malang bagi bayi Zidan, lanjutnya, Ia terjerumus pada susu formula karena selama di rumah sakit Ia sudah disusui dengan susu formula, sementara sang ayah dan ibu berasal dari keluarga dhuafa tak mampu membeli susu formula itu.

Karena tidak kuat untuk membeli susu formula, akhirnya Orang Tua Zidan membawanya ke LKC-DD dalam keadaan badan penuh bisul dan sakit parah. Di LKC-DD dr. Rini bersama tim, mengembalikan Zidan kepada ASI dengan manajemen yang benar. Susah payah memang, tapi dua bulan sudah Zidan berjuang mendapatkan ASI dari ibu maupun donor dari ibu lainnya di LKC- DD.

Kini di umur yang ke-5 bulan ini, kondisinya sudah semakin baik, rata-rata kenaikan berat badan Zidan sekitar 600 gram per bulannya. Bapak dan ibunya pun menjadi lega, karena Zidan dan keluargannya sudah selamat dari bahaya susu formula. (Sumber LKC/Maifil)

Tags:
bayi sehat(1)

Bookmark & Share:


hubungi admin, atw YM : dolla_indra, atw sms 081363130947, atw BBM : 21B3F8BF.

----------------------------------------------

Bangga Jadi Member CMnet? Tempel ini diblogmu.



Copy paste Script ini


160x600