
Apakah terkontaminasi Bahteri Sakazaki atau tidak,
pemberian susu formula untuk bayi sejak dini sangat berisiko terhadap
bayi akan terinfeksi berbagai kuman yang masuk ke tubuh bayi,
terutama ketika memproses susu formula itu mulai dikeluarkan dari
kemasan hingga diminum si bayi. Berbeda dengan Air Susu Ibu (ASI) yang
terjamin dari terkontaminasi bahteri apapun.
Di dalam ASI ada zat-zat hidup yang mengandung anti penyakit yang
ditelan oleh bayi dan dapat melawan penyakit dari dalam dan luar tubuh
bayi tersebut, sehingga bayi tidak gampang sakit. Sementara di susu
formula tidak ada atau 0 (Nol) zat hidup anti penyakit itu, karena susu
sapi sudah diolah dalam panas tinggi dan dipack menjadi susu formula.
"Karena tidak ada zat hidup yang berfungsi sebagai anti penyakit itu
menyebabkan bayi yang meminum susu formula menjadi gampang sakit seperti
diare dan sakit perut lainnya," ungkap Dokter Spesialis Anak LKC-Dompet
Dhuafa dr. Asti Praborini, Sp.A, IBCLC., ketika ditemui seusai
memeriksa kesehatan pasien anak-anak di LKC-DD Ciputat, Jumat
(25/2/2011).
Apalagi kalau ia berasal dari kaum dhuafa yang tidak ada akses, maka
bayinya akan lebih mudah meninggal. Seperti akses pada pengobatan, akses
mendapatkan air bersih, tidak semua orang mampu menyediakan air bersih
sehingga risiko mudhorat menggunakan susu formula menjadi tinggi karena
mereka membutuhkan air bersih untuk melarutkan susu dan merebus botol
susu tersebut. Selanjutnya akses bahan bakar gas atau minyak tanah untuk
memasak air dan merebus botol untuk setiap kali mau dipakai.
"Jadi kebutuhan utama untuk menggunakan susu formula bukan hanya air
tapi juga kebutuhan bahan bakar, dibanding ASI boleh dibilang susu
formula justru sebuah pemborosan. Ingat, boros itu temannya syaitan "
jelas dokter yang akrab dipanggil dr. Rini ini.
Dengan kata lain, lanjut dr. Rini, jika anak diberikan susu formula
sejak dini, artinya orang tua harus menyediakan uang lebih banyak,
karena dibutuhkan untuk beli air, beli gas, minyak tanah atau apapun
sehingga pengeluaran keluarga menjadi besar. Menjadi berbahaya apabila
uang tidak ada sehingga tidak ada pembeli gas untuk merebus botolnya
dan tidak pula mencukupkan takaran susu formula sesuai kebutuhan si
bayi. Dengan ini risiko mudharatnya pun semakin tinggi, ditambah risiko
terkontaminasi saat proses pembuatan susu itu.
"Karena uang tidak punya, sehingga takaran susu yang harusnya 60cc
dibikin aja setengahnya, ini juga berbahaya untuk asupan gizi si bayi, "
jelas dr. Rini.
dr. Rini mencontohkan, mari kita hitung, seorang Tukang Odong-Odong
yang termasuk kategori dhuafa, misalnya, berpenghasilan Rp15.000 s.d
Rp20.000 per hari. Atau kalau kita berbicara statistik, 40 persen rakyat
Indonesia berpenghasilan 2 USD per hari atau sekitar Rp18000 s.d
Rp20.000 per hari. Artinya sebulan pendapatan mereka berkisar Rp500.000
s.d Rp600.000. Sementara untuk kebutuhan susu formula untuk bayinya
diperlukan uang berkisar Rp540.000 s.d Rp640.000 per bulan hanya untuk
pembeli susu sesuai petunjuk takaran saji.
Artinya, sisa uang dari pendapatan keluarga hanya berkisar Rp40.000,
padahal ia membutuhkan uang untuk kebutuhan lain juga seperti beli gas,
beli air bersih, bayar listrik, makan anggota keluarga lainnya, kontrak
rumah, biaya sekolah anak dan kebutuhan lainnya. Bahkan ada yang belum
punya kamar mandi, bayar sewa untuk mandi Rp1000 per kali mandi.
"Bahkan ada, saking pengen hematnya ada yang suami dan isteri mandi
bareng biar bayarnya hanya Rp1000, lama-lama ketahuan sama penjaganya
akhirnya mereka tetap harus bayar Rp2000. Untuk mandi saja ia butuh
pengeluaran Rp.60.000 per bulan. . Ini menyedihkan, saya ngomongnya
seperti bercanda, tapi ini adalah serius dan benar-benar terjadi di
pasien LKC-DD," jelas dr. Rini.
Dengan demikian , jelaslah pemberian susu formula pada bayi sejak
dini seperti ini, lanjutnya, tentu akan menambah miskin keluarga miskin
dan menyebabkan anaknya menjadi kurang gizi karena susu formula yang
diminum,takarannya sangat kurang dari seharusnya.
Kalau susu formula tidak cocok untuk bayi orang miskin, bagaimana
kalau susu formula untuk anak orang kaya? "Sama saja, tetap berisiko"
tutur Rini.
Menurut penelitian, susu formula itu mengandung natrium tinggi, jadi
tanpa kecuali, bayi dari kalangan kaya atau miskin sama saja, akan
berpotensi risiko tinggi terkena hipertensi dan stroke serta penyakit
Kardiovaskuler (CVD) penyakit yang mengenai jantung dan pembuluh darah,
dibandingkan bayi -bayi yang diberi ASI.
Selain itu, bayi-bayi yang diberi susu formula sejak dini juga
berisiko tinggi untuk menderita gangguan prilaku karena MN yang tinggi
termasuk ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah gangguan
perkembangan dalam peningkatan aktifitas motorik anak-anak, hingga
menyebabkan aktifitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung
berlebihan.
"Jadi anak-anak itu akan menjadi brutal saat dewasa, kalau masa
kecilnya hyperactive susah dikendalikan. Selain itu mereka juga berisiko
menderita kanker, leukomia dan penyakit lainnya," tambahnya. "Intinya,
mau miskin atau kaya, mau terkontaminasi atau tidak, hindarilah
pemberian susu formula bagi bayi. Sebaiknya berikan ASI eksklusif pada
bayi sampai umur 6 bl dan genapkan pemberian ASI hingga 2 tahun. "
Bahkan meminum ASI adalah perintah Allah SWT, lanjutnya, tertuang
dalam Al Quran Surat Al Baqarah (2) : 233, Surat Lukman (31) : 14,
Surat Al Ahqaf (46) : 15, Surat Al Thalaq (65) : 6 tentang menyusui
sampai dua tahun.
"Artinya kalau kita laksanakan perintah ini kita akan mendapat amal
karena ini ibadah, tapi kalau kita melawan perintah Allah SWT, maka kita
harus siap menanggung risiko dunia dan akhirat, " jelasnya.
Bayi Zidan
Pada kesempatan itu, dr. Rini mencontohkan bayi Zidan yang lahir di
sebuah Rumah Sakit dengan berat badan 1,4 kg, ketika lahir dia
dipisahkan dengan ibunya karena lahir prematur jadi Zidan ditaruh di
inkubator yang jauh dari ibunya. Selama perawatan Zidan diberikan susu
formula.
Padahal secara fitrah dan keilmuan, lanjut dr. Rini, sekecil atau
seberat apapun bayi apabila menyusu ASU dikelola dengan baik maka dia
akan bisa menyusu dengan ASI, tapi apabila sudah tersentuh oleh botol
dot cukup dua kali saja, si bayi tidak akan mau lagi menyusu pada
ibunya.
"Tidak ada ASI yang tidak keluar. Yang ada, manajemen menyusuinya
yang tidak benar. Karena cara menyusu dengan botol dan puting ibunya
sangat berbeda caranya, kalau sudah dikenalkan mpeng botol maka dia
tidak akan mau lagi susu sama ibu. Tapi kalau sudah dari awal disusui
oleh ibu, maka ASI akan teransang untuk produksi, bahkan akan
kebanjiran," jelas dr. Rini.
Malang bagi bayi Zidan, lanjutnya, Ia terjerumus pada susu formula
karena selama di rumah sakit Ia sudah disusui dengan susu formula,
sementara sang ayah dan ibu berasal dari keluarga dhuafa tak mampu
membeli susu formula itu.
Karena tidak kuat untuk membeli susu formula, akhirnya Orang Tua
Zidan membawanya ke LKC-DD dalam keadaan badan penuh bisul dan sakit
parah. Di LKC-DD dr. Rini bersama tim, mengembalikan Zidan kepada ASI
dengan manajemen yang benar. Susah payah memang, tapi dua bulan sudah
Zidan berjuang mendapatkan ASI dari ibu maupun donor dari ibu lainnya di
LKC- DD.
Kini di umur yang ke-5 bulan ini, kondisinya sudah semakin baik,
rata-rata kenaikan berat badan Zidan sekitar 600 gram per bulannya.
Bapak dan ibunya pun menjadi lega, karena Zidan dan keluargannya sudah
selamat dari bahaya susu formula. (Sumber LKC/Maifil)