Login | Signup

Bantu CMnet dgn DONASI 50ribu saja. Krm ke rekening BNI Syariah : 0159744541. Konfirmasi ke 081363130947. sangat membantu kami dlm mnjalankn CMnet ini. Jazakumullahu Khairan Katsiran

Ibuku Seorang Pelacur
Feb 22nd 2011, 1:37 am:
gembeljalanan

Forum posts: 2
Joined: Feb 22nd 2011
View Profile
Send Message


Ibuku Seorang PelacurCerita dimulai....

Pagi ini cuaca tampak mendung. Hawa dingin mendekap tubuh dengan eratnya. Tulang-tulang terasa sangat linu. Namun bagiku, kondisi ini tidaklah seberat kondisi yang hampir tiap hari kuhadapi. Aku kini sedang membaca-baca buku di dalam kamarku yang sempit seraya sesekali pandanganku mengarah keluar, melihat seorang perempuan yang sedang berdiri di antara beberapa orang. Tubuhnya kurus, hanya tinggal tulang berbalut kulit. Wajahnya pucat pasi, menghadapi serangkaian gejolak hidup. Cahaya bola matanya memudar, memandang harapan ke depan yang sepertinya suram. Rambutnya sudah banyak yang beruban, menahan beban hidup yang tak kunjung membaik. Ia kini berdiri di depan sebelah pintu, melayani para pembeli. Ia merupakan orang terbaik dan yang paling menyayangiku di antara orang-orang yang kukenal. Ia sosok perempuan yang sangat kukagumi. Ia adalah ibuku.

Pekerjaan keseharian ibuku hanyalah sebagai penjual nasi rames, sebagaimana ia sekarang sedang melayani para pembeli. Ibu berjualan persis di depan kontrakan yang kami tinggali. Di kontrakan ini hanya kami berdua. Hanya aku dan Ibu saja. Kami hidup di tempat yang sempit. Kontrakan kami hanya berukuran 4×5 meter yang disekat menjadi dua menggunakan triplek; bagian dalam sebagai kamar ibuku dan luar digunakan sebagai kamarku sekaligus sebagai tempat menaruh alat-alat dapur. Kami tidak memiliki perlengkapan dapur yang banyak. Setiap kali memasak kami harus mengeluarkan alat yang diperlukannya, jadi kami memasak di luar. Aku semenjak lahir pun sudah tinggal di sini. Kini aku telah selesai di sekolah menengah pertama (SMP).

Sejak kecil aku sudah tidak memiliki ayah. Aku juga tak tahu siapa ayahku. Jangankan aku, ibuku sendiri juga tidak mengetahui aku dari benih siapa, karena dulu ibuku seorang pelacur. Di sini saya akan sedikit menceritakan riwayat ibuku sebagaimana yang pernah ibu kisahkan padaku. Aku tidak malu memaparkannya, karena inilah kenyataan yang kuhadapi.

Ibuku hanyalah lulusan sekolah dasar (SD). Ibu merupakan anak tunggal. Dua tahun selepas selesai dari SD, ibuku merantau ke Jogjakarta ikut tetangga. Tetangga ibuku itu bekerja sebagai penjual soto keliling. Setiap harinya, ibuku membantu mempersiapkan dagangannya. Dari mencuci piring hingga memasak. Ibuku tidak dibayar sama sekali, melainkan hanya bisa ikut numpang makan, karena tetanggaku telah memiliki keluarga yang mereka sendiri hidup dalam kondisi yang juga memprihatinkan. Satu tahun Ibu ikut bersama mereka, ibuku merasa kasihan, karena Ibu melihat ekonomi mereka semakin bertambah sulit dengan kehadirannya. Sehingga ibuku pun memutuskan mencari tempat lain. Kebetulan, ibuku saat itu telah diterima sebagai penjaga counter HP. Di tempat kerjanya yang baru, ibuku juga bisa sekalian tinggal. Gaji bulanan ibuku sendiri hanya cukup untuk makan. Namun naas, tiga tahun ibu bekerja, bukan gaji yang ditambah, ibuku justru diperkosa oleh bosnya. Ibuku yang tidak tahu menahu tentang hukum hanya diam dengan kenyataan pahit yang diterimanya. Meskipun ibuku tidak hamil, namun peristiwa itu sangat mengganggu mental Ibu. Ibuku benar-benar merasa tertekan. Sehingga ibuku memutuskan keluar dari pekerjaan itu. Ibuku pun kembali ke kampung halamannya di Magelang. Belum lama Ibu menerima peristiwa yang menyayat hati, sekembalinya di rumah mendapat berita apabila kedua orang tuanya telah meninggal. Kedua orang tuanya meninggal secara bergantian; Ayahnya meninggal karena penyakit kanker akut yang telah lama dideritanya, sedangkan ibunya meninggal karena tekanan darah tinggi yang tak lama sang suami pulang ke rahmatullah.

Ibuku pun merasa terpukul. Ibu tidak tahu harus mengadu kemana karena saudara-saudara dari kedua orang tuanya pun tidak ada yang mau menerima, karena mereka juga hidup dalam kondisi sama-sama di bawah garis kemiskinan. Belum lagi orang tuanya tidak meninggalkan apa-apa yang bisa dimanfaatkan, sehingga Ibu semakin merana. Rumah yang ditinggali merupakan rumah pinjaman dari desa yang kebetulan belum digunakan. Sepeninggal kedua orang tuanya, rumahnya diambil alih kembali oleh desa. Dengan kondisi ini memaksa Ibu untuk kembali ke Jogja mencari pekerjaan, karena Ibu tidak memiliki pengalaman lain selain di kota yang telah menggoreskan perjalanan hitam.

Setibanya di Jogja, Ibu melamar pekerjaan di sana-sini. Namun hasilnya nihil. Hingga suatu ketika, tatkala sedang merenung di pinggir jalan, Ibu berkenalan dengan seorang perempuan yang usianya jauh di atasnya. Ibu bercerita apa adanya dengannya. Hingga orang yang baru dikenalnya itu merasa iba. Ibu kemudian diajaknya ke tempatnya. Ibu dimintanya untuk tinggal bersamanya. Berbulan-bulan Ibu bersamanya, namun Ibu tidak tahu menahu pekerjaan orang itu. Sampai pada waktu tertentu, Ibu menangis. Rupanya selama itu Ibu makan dengan uang hasil orang itu melacur. Ibu mengetahuinya pada saat ada seorang tamu perempuan yang datang ke tempatnya. Tamunya itu menceritakan panjang lebar kepada Ibu, karena sebelumnya Ibu dikira sebagai temannya yang bekerja sebagai pelacur juga.

Setelah mengetahui semua dari tamu itu, Ibu menanyakannya kepada orang yang mengasuh dirinya. Orang itu pun menceritakan apa adanya. Namun orang itu berharap agar Ibu mau tetap tinggal bersamanya. Orang itu sangat berharap agar Ibu mau menjadi anak asuhnya. Mendengar pemaparan orang itu, serta Ibu mengingat kondisinya sendiri, maka menerima ajakannya. Kini Ibu memiliki orang tua asuh yang bekerja sebagai pelacur.

Selama bersama orang tua asuhnya, Ibu hanya tinggal di rumah seraya mondar-mandir mencari pekerjaan yang halal. Lama Ibu dengannya, namun pekerjaan tak kunjung diperoleh. Hingga suatu ketika orang tua asuhnya mengalami kecelakaan. Orang tua yang mengasuh Ibu pun masuk rumah sakit, dengan uang yang dimiliki oleh orang tua asuhnya tidak mencukupi untuk biaya di rumah sakit. Sedangkan pihak rumah sakit sendiri tidak peduli siapa yang sakit itu. Bagi rumah sakit, uang adalah kunci membuka pintu pengobatan, namun pihak RS tidak bisa dan tidak mungkin memberikan jaminan kesembuhan bagi pasien.

Melihat kondisi orang tua asuhnya, Ibu pun merasa putus asa. Ibu merasa berkewajiban untuk membantunya. Berbagai cara Ibu lakukan semampunya guna mencarikan dana pengobatan. Dari menjual perabot yang dimiliki orang tua asuhnya, meskipun khawatir namun tetap Ibu terpaksa lakukan, hingga meminta belas kasih orang lain. Namun semua itu masih jauh dari kebutuhan dana yang dibutuhkan untuk biaya pengobatan. Hasil penjualan perabot hanya cukup membeli buah-buahan untuk orang tua asuhnya yang berbaring di ranjang rumah sakit. Sedang usaha meminta dari orang lain sama sekali tidak memperoleh apa-apa. Dari sinilah Ibu mulai putus asa. Ibu terperosok dalam lubang hitam yang menganga. Ibu melacurkan diri demi pengobatan Ibu asuhnya.

***

Remuk redam perasaan ibuku kala awal melakukannya dengan sosok lelaki bangsat. Hati ibuku merintih tatkala ditindih olehnya. Namun apa boleh buat, sebelumnya ibuku telah kemana-mana mencari orang berhati mulia yang mau membantunya. Dari orang yang terkesan suci dengan perkataannya yang penuh kata-kata Ilahi hingga orang yang selalu teriak untuk membebaskan kemiskinan, namun semua menggelengkan kepala. Mereka hanya mampu memberi doa dan nasehat, dimana rumahnya berisi perabot mahal dan kendaraan mewah. Bagi ibuku saat itu, apabila ada sepuluh orang saja yang mau membantu, tentunya takkan masuk dalam kondisi yang bagi semua wanita tak mau memilihnya.

Hati ibuku pun semakin menjerit keras saat menerima uang pertamanya. Selepas itu ibuku merenung akan lelaki biadab itu. Mengapa lelaki tersebut tidak memberikannya cuma-cuma, mengapa harus menyetubuhinya dulu. Ibuku sama sekali tidak habis pikir pada orang-orang yang demikian. Apalagi kemudian orang tua asuh ibuku yang di rumah sakit meninggalkannya untuk selama-lamanya, sehingga menjadikan ibuku tak lagi memiliki siapa-siapa.
Mulailah ibuku benar-benar tenggelam di lembah hitam. Tempat orang-orang yang selalu menjadi bahan cacian banyak orang. Cacian dari orang-orang munafik yang tak mau menolongnya. Mereka hanya memaki dengan cercaan pemalas, pezina, dan seterusnya. Bagi ibuku, umpatan orang-orang hanyalah angin lalu, karena kenyataannya mereka sama-sekali tidak memiliki hati nurani.

Tujuh tahun pun berlalu. Selain siksaan sosial yang terus mendera, dari kawan-kawan sesama pelacur pun terdapat masalah. Ibuku semakin menua, sedangkan pelacur-pelacur muda mulai berdatangan. Tawaran untuk ibuku semakin sedikit saja. Di saat kondisinya tidak menentu, ibuku hamil. Ibu tak tahu siapa yang menghamili, karena Ibu sebelumnya melakukannya dengan beberapa lelaki. Ibuku hanya pasrah. Ibu tidak mau menggugurkan. Ibu merasa kasihan dengan bayi yang dikandungnya. Akhirnya Ibu terpaksa berhenti menjadi pelacur. Ibu tak tahu lagi harus berbuat apa untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-harinya.

Ibuku pun melahirkan anak laki-laki dalam keadaan payah. Kerjaan tidak punya, saudara juga tidak memiliki. Uang simpanan habis digunakan biaya persalinan. Anak laki-laki itu adalah aku. Saat itu ibuku memulai kehidupannya dengan berjualan gorengan kecil-kecilan; 10 tempe, 10 pisang, dan 10 tela. Dengan kondisi demikian, jangankan untuk memperhatikan kebutuhan gizi untukku, bisa makan sehari-hari ala kadarnya terpenuhi pun sudah beruntung. 18 tahun telah berlalu, hingga kini belum ada perubahan yang drastis. Namun aku dan ibuku masih beruntung, kami belum pernah sakit yang memerlukan biaya besar. Jangankan masuk rumah sakit, masuk puskesmas pun belum pernah. Kami juga tidak berharap untuk masuk ke sana. Mengingat semua cerita dari ibuku itu, air mataku meleleh, hingga tanpa terasa tubuhku basah kuyup karenanya… Semoga Tuhan mengampuni semua dosa-dosa Ibu, dan memberikan yang terbaik untuk kami[!!!???]

________________________

Semoga bermanfaat....


Salam gembel jalanan, Wahyu NH. Aly


________________________

Sumber dari blog pribadi: http://ngajeng.wordpress.com/2010/04/08/noda-hidup/


    hubungi admin, atw YM : dolla_indra, atw sms 081363130947, atw BBM : 21B3F8BF.

    ----------------------------------------------

    Bangga Jadi Member CMnet? Tempel ini diblogmu.



    Copy paste Script ini


    160x600